Undangan Pernikahan
Alin & Rama













“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Semua berawal di masa yang konon katanya adalah masa paling indah dalam hidup—masa SMA. Saat itu, kami hanyalah dua anak remaja biasa yang sibuk dengan pelajaran, tugas, dan dinamika kehidupan sekolah. Tidak ada ketertarikan pada awalnya, hanya sekadar tahu dan sering satu kelompok tugas.
Namun waktu perlahan mengubah segalanya. Dari sekadar rekan kerja kelompok, kami mulai memperhatikan satu sama lain, saling mengingatkan, saling peduli, meski masih diam-diam. Perasaan itu tumbuh di antara buku, ujian, dan tawa kecil di sela jam istirahat.
Hingga masa SMA hampir usai, rasa itu terus ada… tapi belum juga diucap. Ego, keraguan, dan rasa takut kehilangan membuat kami memilih memendamnya. Namun, lewat sebuah karya tulis ilmiah—yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain—Rama akhirnya menyatakan isi hatinya.
Dan Alhamdulillah, sejak saat itu kami memulai kisah ini, bukan lagi sebagai dua teman sekelas, tapi sebagai dua hati yang memilih untuk saling menjaga.
Perjalanan kami tidak selalu lurus. Ada tawa, ada jeda, dan tentu saja pertanyaan:
“Apakah ini cinta, atau hanya karena sudah terlalu lama bersama?”
Namun dalam pencarian itu, kami belajar sesuatu.
Seperti kata Nietzsche,
“Cinta bukan berarti saling memandang, tetapi melihat ke arah yang sama.”
Karena kalau hanya saling tatap tanpa tahu arah, itu bukan cinta—hanya romansa sesaat.
Dari situ kami paham: cinta bukan tentang rasa yang besar di awal, tapi tentang komitmen untuk terus bertumbuh, meskipun jalannya tidak selalu mudah.
Setelah lebih dari 9 tahun perjalanan—dengan segala cerita, ujian, tawa, dan tangis yang kami bagi—kami percaya bahwa ini bukan akhir cerita.
Tahun 2025 menjadi saksi, bahwa kami kini melangkah ke babak baru.
Bukan sebagai dua orang asing yang jatuh cinta,
tapi sebagai satu tim yang saling menguatkan.
“Life can only be understood backwards, but it must be lived forwards.”
— Søren Kierkegaard
Dan hari itu telah tiba. Dengan segala kerendahan hati dan penuh cinta, kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari hari bersejarah kami


