Q.S. Ar-Rum: 21
Aku tidak tahu seperti apa rencana semesta. Hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya bertemu denganmu. Awalnya aku mengira hubungan kita hanya sebatas teman berbagi cerita, namun ternyata perlahan mulai tumbuh perasaan. Kami saling tertarik satu sama lain. Saat itu, dia sedang bekerja di Indonesia. Bukankah ini suatu kebetulan yang indah? Aku merasa ini adalah salah satu rencana terbaik Tuhan yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.
Katanya, cinta tumbuh karena kebersamaan. Itu berlaku untukku, tetapi berbeda untuknya. Dia mengaku jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama. Memang benar, cinta tidak bisa memilih kepada siapa ia datang. Kami saling menyukai, meskipun berasal dari negara yang berbeda, memiliki adat dan budaya yang berbeda, bahkan perbedaan zona waktu. Tapi semesta punya caranya sendiri untuk mempertemukan dua hati yang ditakdirkan bersama.
Ternyata benar, kehendak Tuhan yang menentukan. Saat itu dia harus kembali ke negaranya. Namun secara tiba-tiba, dia menyatakan keinginannya untuk hidup bersama, untuk melibatkan aku dalam seluruh kisah hidupnya, dan menjadi bagian dari dirinya. Semesta pun menunjukkan jalannya. Dari segala niat baik yang ada, tidak ada halangan berarti, meskipun jarak memisahkan kami ribuan kilometer. Semua berjalan lancar karena kami percaya pada niat dan tujuan yang sama.
Akhirnya kami memulai kehidupan baru sebagai suami istri. Percayalah, bukan karena bertemu lalu berjodoh, tapi karena berjodoh, maka Tuhan mempertemukan kami. Kami mengikrarkan janji pernikahan di bulan Juni 2025. Momen itu mengingatkanku kembali saat kami memutuskan untuk menjalin hubungan, juga di bulan Juni. Seolah semuanya memang sudah digariskan. Seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, "Apa yang menjadi takdirmu akan menemukan jalannya untuk menemuimu."