Intan
Intan Tri Puspitasari S.Pd
Putri Ketiga
Bapak Drs. H. Aji Sukarmaji, M.Si.
& Ibu Elis Supyeni Amd. Keb
Hisyam
Muhammad Hisyam Ramadhan S. H
Putra Keenam
Alm. Bapak Ipin Arifin
& Ibu Iyan Nurjanah S. Pd
Dalam dunia yang dibentuk oleh waktu, manusia sering kali percaya bahwa takdir datang dengan suara gemuruh seperti perang besar, naga yang membelah langit, atau kerajaan yang runtuh dalam semalam. Namun beberapa takdir datang dengan cara yang lebih tenang, nyaris tak terdengar.
Begitulah kisah kami dimulai.
Pada 2018 Muhammad Hisyam Ramadhan dan Intan Tri Puspitasari pernah saling mengenal melalui satu pertemuan singkat nan sederhana. Sebuah pertemuan kecil di antara luasnya perjalanan hidup. Tidak ada janji yang diucapkan. Tidak ada keyakinan bahwa jalan kami akan kembali bersinggungan di masa depan.
Lalu waktu membawa kami pergi.
Tahun-tahun berlalu seperti musim yang datang dan pergi di negeri-negeri utara. Kami tumbuh bersama kehidupan yang tidak selalu mudah. Ada mimpi yang harus diperjuangkan, kegagalan yang diam-diam menguatkan, malam-malam panjang ketika harapan terasa jauh dari jangkauan. Tetapi waktu, sebagaimana takdir, tidak pernah benar-benar kehilangan arah.
Dan pada 2024, semesta mempertemukan kami kembali melalui cara yang sederhana tetapi tak terduga. Melalui ibu dari seorang sahabat, jalan itu dibukakan kembali, seolah kehidupan sedang menyusun ulang kisah yang dulu sempat berhenti di tengah jalan.
Awalnya berupa percakapan kecil. Namun dari sana tumbuh sesuatu yang perlahan menjadi keyakinan. Hadir ketenangan dalam setiap obrolan. Muncul rasa nyaman tanpa dipaksa. Dan di tengah dunia yang terus berubah, kami merasa saling menemukan seseorang yang membuat segalanya terasa lebih pasti.
Tiga minggu kami mengenal lebih dekat. Tiga minggu yang singkat, tetapi cukup untuk memahami bahwa beberapa hati memang tidak membutuhkan waktu lama untuk saling mengenali.
Lalu dua tahun berlalu bersama.
Dua tahun yang tidak selalu mudah. Kami melewati hari-hari penuh keraguan, ego, dan ketidakpastian seperti manusia pada umumnya. Namun dari situ kami belajar bahwa harapan bukan tentang hidup tanpa badai. Harapan adalah keberanian tetap melangkah meski langit belum sepenuhnya cerah. Perlahan kami mengerti satu hal:
“Di dunia yang dikuasai oleh waktu dan takdir, kami menemukan kepastian satu sama lain.”
Bukan kepastian tentang bagaimana hidup akan berjalan. Bukan jaminan bahwa perjalanan akan selalu ringan. Melainkan kepastian bahwa ketika dunia berubah terlalu cepat, kami masih memiliki satu sama lain untuk kembali pulang.
Kini kami berdiri di ambang perjalanan baru, bukan sebagai dua manusia yang sempurna, melainkan sebagai dua jiwa yang memilih untuk percaya: di balik seluruh musim yang datang dan pergi, harapan akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Seperti kisah-kisah lama yang bertahan melewati zaman, kami percaya bahwa
beberapa pertemuan memang telah ditulis oleh waktu jauh sebelum hati siap membacanya.
Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang ingin memberikan tanda kasih untuk kami, dapat melalui: